Pekanbaru, Detak Indonesia -- Sejumlah petani, pengurus koperasi, pemerintah desa, hingga perwakilan dinas perkebunan dari Kalimantan Barat mempelajari pola kemitraan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang dikembangkan PTPN IV PalmCo di Riau sebagai referensi untuk mempercepat Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di daerah mereka.
Selama sepekan, mereka berkunjung ke sejumlah petani Bumi Lancang Kuning Riau dan berdiskusi langsung untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, terutama dalam upaya melangsungkan budidaya serta kemitraan berkelanjutan dan meningkatkan produktivitas hingga kesejahteraan.
Reza Pahlevi, verifikator PSR dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, menilai pola pelaksanaan PSR yang ditemuinya di Riau menunjukkan kolaborasi kuat antara petani, koperasi, pemerintah dan perusahaan.
"Kalau berdasarkan pengamatan saya, di sini seperti utopia PSR-nya. Sangat maju. Masyarakat, pengurus KUD, pemerintah, termasuk perusahaan sangat berdedikasi untuk melaksanakan program ini," kata Reza.
Menurut dia, salah satu hal yang menarik adalah komitmen perusahaan dalam melakukan pendampingan teknis kepada petani secara berkelanjutan.
Pendampingan tersebut, lanjut Reza, tidak berhenti ketika tanaman ditanam, tetapi berlangsung sepanjang siklus perkebunan.
"Dari perusahaan juga sampai mengirim orang untuk membina dari awal sampai nanti tumbang lagi. Itu komitmen yang sangat bagus. Kami berharap seluruh pemangku kepentingan di tempat kami bisa mengikuti hal-hal baik yang ada di sini," ujarnya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh dari Riau dapat menjadi bahan untuk mempercepat pengembangan PSR di Kalimantan Barat.
Harapan serupa disampaikan Ketua Koperasi Produsen Jaya Landak Makmur, Supendi. Koperasi yang berlokasi di Ngabang, Kabupaten Landak tersebut memiliki areal sekitar 500 hektare dengan kurang lebih 500 anggota.
Koperasi yang berdiri sejak 2013 itu tengah mempersiapkan langkah untuk memulai kemitraan dengan PTPN.
Menurut Supendi, kunjungan ke Regional III memberikan gambaran konkret mengenai manfaat pendampingan teknis dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
"Selama studi banding di PTPN IV Regional III di Riau, kami melihat tanaman kelapa sawit yang betul-betul menjanjikan bagi petani. Mulai dari proses PSR, perawatan, pembinaan hingga produksi, petani dibina secara teknis," katanya.
Ia mengatakan petani peserta kunjungan juga berkesempatan berkomunikasi langsung dengan petani mitra yang telah menjalankan program tersebut.
Pengalaman itu menjadi penting karena peserta tidak hanya memperoleh gambaran dari sisi perusahaan, tetapi juga mendengar langsung pengalaman petani dalam menjalankan pola kemitraan.
Supendi berharap praktik baik di Riau dapat diadaptasi sesuai dengan karakter wilayah dan masyarakat di Kalimantan Barat.
"Kultur daerah, budaya dan karakter masyarakat tentu berbeda. Namun kalau kami bisa menerapkan 50 sampai 60 persen saja dari apa yang kami lihat di sini, itu sudah luar biasa. Selanjutnya tentu kami berharap bisa berkembang sampai 80 atau 90 persen," ujarnya.
Ia mengatakan keberhasilan program tersebut pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kebun sekaligus pertumbuhan ekonomi keluarga petani.
Menurut Supendi, dukungan pemerintah daerah juga menjadi faktor penting dalam mendorong percepatan PSR.
Hasil kunjungan tersebut, katanya, akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait di Kabupaten Landak maupun Kabupaten Sanggau sebagai bagian dari upaya membangun pola kemitraan yang sesuai bagi petani setempat.
Kepala Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Sugito, mengatakan studi lapangan tersebut membuka wawasan peserta mengenai pengelolaan PSR secara terintegrasi.
Selama tiga hari, rombongan melihat langsung kebun petani, proses pengolahan di pabrik hingga pola pendampingan yang dijalankan bersama PTPN IV Regional III.
"Studi banding ini sangat diperlukan dan sangat bermanfaat bagi kami untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai PSR," katanya.
Menurut Sugito, kunjungan langsung ke petani menjadi salah satu bagian paling penting karena peserta dapat melihat kondisi tanaman dan produktivitas kebun yang telah menjalankan pola kemitraan.
"Kami langsung turun ke petani, kemudian ke pabrik dan ke PTPN. Yang kami lihat, program PSR yang bermitra dengan PTPN ini sangat bagus. Hasil produksi petaninya juga kami lihat langsung di lapangan," ujarnya.
Ia pun berharap pola serupa dapat dikembangkan bagi petani kelapa sawit di Kalimantan Barat.
"Kami berharap, bahkan bermimpi, petani di tempat kami di Kalimantan Barat juga bisa menjalankan PSR dengan bermitra bersama PTPN. Kami ingin memotivasi kawan-kawan petani agar bisa bekerja sama dan membangun kemitraan seperti yang kami lihat di Riau," katanya.
Selain produktivitas, aspek keberlanjutan turut menjadi perhatian peserta kunjungan.
Reza mengatakan penerapan praktik budidaya yang baik, termasuk pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, menjadi bagian penting dalam membangun perkebunan sawit rakyat yang berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Sanggau, menurut dia, telah menyampaikan larangan pembakaran lahan, termasuk pada areal PSR.
Hingga kini, ia mengatakan belum menerima laporan adanya lahan PSR di wilayahnya yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
"Kami berharap kegiatan karhutla terus berkurang. Dengan pengelolaan yang semakin baik, kualitas CPO kita juga akan meningkat sehingga memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar dunia," katanya.
Pertemuan antara petani Kalimantan Barat dengan petani mitra di Riau tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan PSR tidak semata ditentukan oleh proses mengganti tanaman tua dengan tanaman baru.
Keberhasilan program membutuhkan ekosistem yang melibatkan petani, koperasi, pemerintah daerah dan perusahaan, mulai dari kesiapan kelembagaan, penerapan praktik budidaya yang baik, pendampingan teknis hingga kepastian pengelolaan tanaman setelah masa peremajaan.
Melalui pembelajaran langsung di lapangan, peserta berharap pengalaman kemitraan yang dikembangkan PTPN IV Regional III di Riau dapat menjadi referensi untuk membangun perkebunan sawit rakyat di Kalimantan yang semakin produktif, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. (tim)